hooh... hari ini, warnet di dekat rumah saya terkena pemadaman listrik semua =='
susahnya... pokonya dipikiran saya tadi tuh, hanya bagaimana caranya supaya saya bisa melanjutkan fanfict ini. benar lho!
oke oke...
ini dia,, lanjutan fanfiction dari "Akhirnya Bertemu Kembali"!!
Akhirnya Bertemu Kembali
aku menatapnya dalam-dalam.
mulut ini seperti terkunci.
aku ingin mengucapkan sesuatu bahwa saat itu dia akan pergi selamanya.
tapi... aku... kakek, apa aku harus mengatakan hal yang sesungguhnya?
ku tundukkan kepalaku. ku tatap tanah di bawah kami.
tanah yang bersih. di tahun Heisei, tanah itu tak seperti tanah yang ini.
tampak halus dan subur.
Jin memandangku lembut dan tersenyum simpul. tampaknya Ia tahu apa yang sedang kupikirkan.
disingkirkan rambutku yang sedari tadi menutupi dahi dan mataku sebelah kiri.
"kan Kau sendiri yang bilang bahwa Aku harus hidup dengan bahagia. apa Kau sudah lupa dengan apa yang Kau katakan? dasar!" kata Jin jengkel.
heee... iya! aku ingat! aku pernah mengatakan hal seperti itu padanya.
sesaat sebelum aku meninggalkannya.
"te... tentu saja aku ingat!" balasku memalingkan wajah.
"bohong! terlihat jelas tahu..."
ukhh... matanya itu benar-benar jeli >.
"ahahahaa..ahaahhaahaaahaaa..hahahaaa.. sudah hentikaaaannn~~!!! hahaaa~!!!" teriakku kegelian saat kedua ppinggulku dikelitikinya..
"biar tahu rasa Kau. Kau tidak bisa bohong tahu! nih.. rasakan!!" dikelitiki lagi pinggulku.
"Ji..Jiin!! hentikaaann~ dasaarr!!! hahaaa..."
akhirnya dilepaskannya tangannya dari tubuhku.
"jangan cemas. ini perintah negara. aku tidak akan khawatir lagi setelah Kau datang kembali menemuiku sekarang. mati pun aku rela." Jin menatapku serius.
dahiku mengerut. aku tersenyum. berusaha untuk menerimanya.. tapi tak bisa. air mataku akan mengalir... tidak! tak boleh menangis! Dia tak boleh melihatku menangis lagi.
"sudah jangan cengeng. aku melakukannya karena tugas. sudahlah, ini sudah sore. ayo kita pulang."
"baik.." kuhapus air mataku dan ku ikuti Dia.
-----------------------------------------------------------------------
Kami tiba di kediaman Kasuga.
sudah lama sekali... tak banyak yang berubah. hanya beberapa dekorasi taman saja yang tampak modern.
Kami masuk ke dalam rumah besar itu dan menemui Kak Yuriko.
kak Yuriko... wajahnya sumringah ketika melihatku.
tampaknya Dia tahu bahwa aku ini "Mitsuya".
segera Ia berlari ke arahku dan memelukku.
"Kau.... Selamat Datang kembali, Mitsuya.." tangisnya keras.
"terima kasih Yuriko. Kau tampak sehat ya.." kataku.
"tentu."
"oh ya, mana Aiko?" tanyaku sambil melihat ke sekitar.
"Dia tinggal di Italia bersama Matsuri. mungkin Dia akan menetap disana." jawab Kak Yuriko.
tidak. Dia akan kembali ke Jepang dan menghabiskan sisa waktunya di Jepang. kalau tidak, tak mungkin Ubukata terus bersama denganku sampai sekarang.
"yaah.. daripada itu, Kau istirahatlah dulu. besok Kita lanjutkan temu kangen kita." lanjut Yuriko sambil membetulkan pita rambutnya.
"baik." jawabku mengangguk.
Yuriko melirikku sambil tersenyum, "syukurlah ya... Kau benar-benar tidak berubah."
"hah?"
"yaah... begitulah." katanya sambil berlalu.
-------------------------------------------------------------------
Aku tak bisa tidur. mata ini tak bisa terpejam. Aku masih tak bisa percaya bahwa akhirnya Aku bisa kembali kemari. kulihat lagi di sekitarku. tak ada yang berubah dari kamar ini. meskipun kakek kembali memakai kamar ini setelah aku pergi, tampaknya semuanya dibiarkan sama seperti sebelumnya. seperti sengaja dibiarkan sampai aku datang kemari dan memakai kembali kamar ini.
tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar ini.
ku intip sedikit ke arah pintu.. "Jin?"
"Hey, kau belum tidur?" tanyanya.
"aku tidak bisa tidur. ada apa datang kemari? masuklah.." kataku sambil mengayunkan tangan padanya. Ia pun masuk dan duduk di atas tempat tidurku.
"Aku juga tidak bisa tidur." katanya.
"lalu kenapa kau kemari?"
"rasanya aku ingin mengobrol denganmu lebih banyak lagi. haaaaa~ rasanya seperti mimpi! kau datang dengan tiba-tiba. memang benar-benar ciri khasmu ya..?"
"jangan bilang begitu, ah.."
"kenapa? kau tersipu dengan ucapanku barusan? hehee.."
"si...siapa?? dasar!" aku memalingkan wajahku.
"kau tidak bisa bohong lho.." goda Jin sambil memegang beberapa helai rambutku.
aku menatap wajah Jin dengan wajah memerah. dahiku mengerut, namun sebenarnya aku sangat senang dengan ucapannya. mungkin di mulutnya itu tersimpan banyak racun yang dapat membuat siapapun yang berada didekatnya merasa nyaman dan senang.
Ia menatapku lama dan dalam. kemudian Ia mendekat ke arahku. semakin dekat... semakin dekat... dirangkulnya tubuhku, dan kemudian dikecupnya bibirku.
jendela yang sedari tadi terbuka, masuklah angin berhembus kedalam kamar ini.
-TSUZUKU-
Tampilkan postingan dengan label akhirnya bertemu kembali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akhirnya bertemu kembali. Tampilkan semua postingan
20 Apr 2011
19 Apr 2011
Akhirnya bertemu kembali
konnichiwa minna~^o^/
saya datang kemari mau membuat sebuah fanfiction!!
judulnya Akhirnya Bertemu Kembali
saya berniat melanjutkan fanfiction dari sebuah Manga berjudul Golden Days dari Shigeru Takao.
saya sudah mem-posting sinopsis dari komik aslinya beberapa hari lalu.
saya benar-benar gemas ketika membacanya!
terlebih lagi ketika membaca bab terakhirnya.
ukkkhhh~~ saya menangisss!!!!
pada akhirnya Mitsuya kembali ke masanya dan berpisah dengan Jin Kasuga. dan sang kakek, Yoshimitsu akhirnya meninggal dan kemudian datanglah seorang anak laki-laki bernama Ubukata yang ternyata adalah cicitnya Aiko(adiknya Jin Kasuga).
ukhh... daripada berlama-lama,, saya akan langsung saja membuat fanfictnya!!
AKHIRNYA BERTEMU KEMBALI
namaku Mitsuya. sudah dua tahun berlalu sejak kejadian itu.
kini aku menjalani hidup dengan bahagia dengan Ubukata. wajahnya mirip sekali dengan seseorang yang sampai akhir hayatku, tak akan pernah terlupakan. ya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri dan juga pada kakek bahwa aku tak akan pernah melupakannya.
hari minggu, tahun Heisei, aku memutuskan untuk pergi ke gunung Atago bersama Ubukata. Ibu masih seperti dulu. Ia tetap overprotective padaku. kesal sih, tapi untungnya Ayah sangat baik padaku. Ayah adalah orang kedua setelah Ubukata yang tahu bahwa aku pernah ke zaman Taishou. makannya, Ayah mengizinkanku untuk pergi ke gunung Atago bersama Ubukata. karena saat itu, hanya Ubukata yang bisa menjagaku.
"sudahlah, Bu, jangan sedih begitu. aku kan hanya pergi ke gunung Atago. aku tidak pergi ke luar negeri kok.." kataku sambil memakai sepatu.
"tenanglah, bibi... kami pasti kembali." sambung Ubukata sambil tersenyum.
"tapi... kau tampak seperti akan pergi jauh.. ke tempat dimana aku tak bisa menjangkaumu untuk sementara." ucap Ibu sedih sambil memegang tangan ayah.
sepertinya Ibu masih sangat trauma.. penculikan yang ku alami belasan tahun lalu, sepertinya membuat ibu menjadi sangat tertekan.
"ibu jangan begitu. Mitsuya sudah besar. dia bisa menjaga dirinya. apalagi ada Ubutaka yang akan menemaninya.. sudahlah tidak usah cemas. (menatap Mitsuya)... kalian berdua pergilah..." ayah mengangguk tanda setuju. tampaknya ibu sudah tidak begitu cemas lagi. semua itu tampak dari wajahnya yang tersenyum simpul namun dahinya mengerut.
"baiklah.. kami pergi dulu." kataku membuka pintu.
"kami pergi dulu, paman..." Ubukata melambaikan tangan.
"Mitsuya... jangan sampai terkena flu, yaa!!" teriak ibu sambil menangis. sesekali ku lihat ke belakang, tampak senyum tulus dari ibu.
kami pergi dengan berjalan kaki.
Ubukata benar-benar hebat. aku tak tahu bagaimana aku harus berterimakasih padanya. Ia ada disaat aku sangat membutuhkan bantuan. Ia selalu bersamaku. bukan hanya wajahnya, tetapi juga sifatnya itu mirip sekali dengan seseorang yang dulu ku kenal.
benar... aku sangat merindukannya.
"ng? ada apa Mitsuya?" katanya heran saat menyadari diriku yang menatap dalam padanya.
"ti...tidak ada apa-apa." kataku menatap langit.
Ia berjalan cepat ke depanku, "kenapa kau menangis? apa aku berbuat salah padamu?"
"tidak. kau tidak salah apa-apa. aku hanya berpikir bahwa kau benar-benar baik. persis seperti 'Dia' yang ku kenal." tangisku sesaat setelah menghentikan langkahku.
"(tersenyum)...begitu ya? kau sudah tidak sabar ingin sampai ya? jangan menangis saat sudah sampai disana ya??" katanya sambil tersenyum.
"terima kasih. aku tidak tahu harus bagaimana untuk berterimakasih padamu."
"sudahlah.. tidak usah berterimakasih. ah, kita sudah hampir sampai!" kata Ubukata.
sudah lama sekali...
aku ingat! saat kita pertama kali bertemu, kau mengira bahwa aku adalah Yoshimitsu. kemudian kau memukulku dan aku pingsan. berapa kalipun aku bilang bahwa aku bukanlah kakek, tapi kau tetap saja keras kepala hingga akhirnya aku menyerah dan membiarkanmu memanggilku "Mitsu" sesukamu. kau selalu berkata "I Love You". tapi itu bukan untukku, melainkan untuk kakek. dan pada akhirnya aku tahu bahwa kau tulus saat mengatakan "aku menyukaimu..." kepadaku. ya! kata-kata itu untukku!
semuanya berubah dalam berpuluh-puluh tahun. rumah penduduk zaman dulu yang terlihat sangat rapat dan makmur, kini terbangun gedung-gedung mewah di atas gunung Atago.
hei, kau dengar tidak? aku baru menyadari perasaanku yang sebenarnya. aku menyukaimu, Tuan Raja...
"Mitsuya... jangan menangis! kau kan laki-laki!!" teriak Ubukata menyadarkanku.
"ma...maaf. sudahlah.. bisa tinggalkan aku sebentar?" tanyaku padanya. tampak wajah Ubukata yang cemas menatapku. aku tahu Dia sangat cemas dan sedih. akhirnya Ia tersenyum sambil mengerutkan dahinya.
"baiklah jika itu yang kau mau. panggillah aku jika kau sudah merasa lega. aku ada di tepi sungai di bawah sana."
"terima kasih..."
Ubukata pun berlalu.
angin sepoi-sepoi menghampiriku. rambut hitamku menari-nari di angkasa.
Kau... sampai kapanpun akan selalu ku ingat.
sepertinya Kakek pun merasa begitu.
sepertinya Ia juga mempunyai perasaan terhadapmu.
meskipun aku tidak begitu lama mengenalmu tapi aku benar-benar paham perasaan itu. perasaan menyukai dirimu yang sampai kapanpun akan selalu menyukai kakek.
akupun berharap bahwa perasaanmu itu juga untukku.
aku... jika waktu bisa kembali, aku akan membuatmu menyadari perasaanku yang sesungguhnya.
aku ingin kau tahu bahwa aku juga menyukaimu, Jin...
###DDDDDDDDRRRRRRRRDDDDDDDDDTTTTTTTTTTT!!!!###
a...apa ini???
gempa????
tidak!! aku belum mau mati!
Tuhan, aku masih ingin hidup!
Ubukata, Ibu, dan Ayah harus bahagia bersamaku!
JIIINN!!!!
"MITSUYAAAAAA!!!!" sesaat sebelum mata ini terpejam, kudengar suara Ubukata memanggilku.
aaahhh.... apa aku akan mati, ya Tuhan??
--------------------------------------------------------------------------
plik!
kudapati diriku terduduk di tepi jalan setelah aku sadar.
ku lihat disekelilingku. walaupun samar-samar, namun aku yakin!
ini adalah zaman Taishou yang ku kenal!
orang-orang berlalu-lalang mengenakan kimono.
mobil antik yang mempunyai kecepatan yang sangat lambat dan juga becak-becak yang sedari tadi lewat di depanku...
ya! tak salah lagi!! ini benar-benar zaman Taishou!!
ohh... dimana Jin?
apa Dia masih hidup??
Aiko? kak Kunimi? Kak Yuriko??
kalian semua... apakah kalian masih tinggal disini?
"Mi...Mitsuya?" kata seorang lelaki dari arah belakangku.
saat ku palingkan wajah ke belakang... ya! rambut itu... suara itu... mata hijau itu... wajah itu.... "Jin?? benarkah itu Kau?" tanyaku terisak.
"Kau... bukan Yoshimitsu, kan?" tanyanya.
"aku... Mitsuya, bodoh.." kataku sambil tersenyum.
Ia berlari ke arahku dan memelukku.
ya Tuhan,, terima kasih karena telah memberikanku kesempatan untuk bertemu dengannya lagi..
"Mitsuya.. katakan padaku bahwa aku tak sedang bermimpi!" teriaknya di telingaku sambil terus mendekap erat tubuhku. kurasakan sesuatu yang basah di pundakku. air matanya... berjatuhan membasahi bajuku."
"tidak.. kau tidak sedang bermimpi. aku benar-benar Mitsuya." jawabku sambil tersenyum.
Ia melepaskan pelukannya. kemudian menatapku sambil tersenyum. aku pun tersenyum padanya.
"aaahh... akhirnya bertemu kembali..." di dekap lagi tubuhku.
hangat... tubuh inilah yang kurindukan.
pelukannya, suaranya, dan wajahnya... tidak berubah.
"mana Kakek?" tanyaku.
"aku tidak tahu. setelah aku kembali ke Jepang setelah pulang dari Italia, Ia sudah menghilang entah kemana. aku benar-benar kehilangannya setelah kehilanganmu juga. apa kau tidak tahu perasaanku setelah kau tinggalkan, hey, Mitsuya?"
"tentu saja aku tahu. aku juga merasa kehilanganmu bodoh. tapi berhentilah mengatakan hal romantis begitu. kau benar-benar tidak berubah, ya..."
"hahaa.. kau ini. kau pun sama saja. hanya rambutmu saja yang bertambah panjang. benar-benar indah..." katanya sambil mencium beberapa helai rambutku.
aku tersipu. dasar... sifatnya itu pun sama sekali tidak berubah.
"heeeee... ada apa ini? tumben. biasanya kau selalu menghindar. apa kau mulai suka padaku?" tanyanya.
"jangan GE-ER ya!!!" kataku sembari melayangkan tinju ke arahnya.
Ia berkelit. sepertinya Dia sudah mulai terbiasa dengan semua tinju-tinju yang biasanya selalu kulayangkan padanya. heh, sepertinya hanya itu yang berubah darinya.
"jangan kasar-kasar begitu dong, Mitsu..."
"kau duluan kan yang memulai.. huh!"
"sudah sudah... hey, mulai tahun depan aku akan ikut perang."
"apa?"
"iya.. perang dunia ke-2"
sesaat kemudian angin kencang berhembus di dalam hatiku.
-TSUZUKU-
saya datang kemari mau membuat sebuah fanfiction!!
judulnya Akhirnya Bertemu Kembali
saya berniat melanjutkan fanfiction dari sebuah Manga berjudul Golden Days dari Shigeru Takao.
saya sudah mem-posting sinopsis dari komik aslinya beberapa hari lalu.
saya benar-benar gemas ketika membacanya!
terlebih lagi ketika membaca bab terakhirnya.
ukkkhhh~~ saya menangisss!!!!
pada akhirnya Mitsuya kembali ke masanya dan berpisah dengan Jin Kasuga. dan sang kakek, Yoshimitsu akhirnya meninggal dan kemudian datanglah seorang anak laki-laki bernama Ubukata yang ternyata adalah cicitnya Aiko(adiknya Jin Kasuga).
ukhh... daripada berlama-lama,, saya akan langsung saja membuat fanfictnya!!
AKHIRNYA BERTEMU KEMBALI
namaku Mitsuya. sudah dua tahun berlalu sejak kejadian itu.
kini aku menjalani hidup dengan bahagia dengan Ubukata. wajahnya mirip sekali dengan seseorang yang sampai akhir hayatku, tak akan pernah terlupakan. ya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri dan juga pada kakek bahwa aku tak akan pernah melupakannya.
hari minggu, tahun Heisei, aku memutuskan untuk pergi ke gunung Atago bersama Ubukata. Ibu masih seperti dulu. Ia tetap overprotective padaku. kesal sih, tapi untungnya Ayah sangat baik padaku. Ayah adalah orang kedua setelah Ubukata yang tahu bahwa aku pernah ke zaman Taishou. makannya, Ayah mengizinkanku untuk pergi ke gunung Atago bersama Ubukata. karena saat itu, hanya Ubukata yang bisa menjagaku.
"sudahlah, Bu, jangan sedih begitu. aku kan hanya pergi ke gunung Atago. aku tidak pergi ke luar negeri kok.." kataku sambil memakai sepatu.
"tenanglah, bibi... kami pasti kembali." sambung Ubukata sambil tersenyum.
"tapi... kau tampak seperti akan pergi jauh.. ke tempat dimana aku tak bisa menjangkaumu untuk sementara." ucap Ibu sedih sambil memegang tangan ayah.
sepertinya Ibu masih sangat trauma.. penculikan yang ku alami belasan tahun lalu, sepertinya membuat ibu menjadi sangat tertekan.
"ibu jangan begitu. Mitsuya sudah besar. dia bisa menjaga dirinya. apalagi ada Ubutaka yang akan menemaninya.. sudahlah tidak usah cemas. (menatap Mitsuya)... kalian berdua pergilah..." ayah mengangguk tanda setuju. tampaknya ibu sudah tidak begitu cemas lagi. semua itu tampak dari wajahnya yang tersenyum simpul namun dahinya mengerut.
"baiklah.. kami pergi dulu." kataku membuka pintu.
"kami pergi dulu, paman..." Ubukata melambaikan tangan.
"Mitsuya... jangan sampai terkena flu, yaa!!" teriak ibu sambil menangis. sesekali ku lihat ke belakang, tampak senyum tulus dari ibu.
kami pergi dengan berjalan kaki.
Ubukata benar-benar hebat. aku tak tahu bagaimana aku harus berterimakasih padanya. Ia ada disaat aku sangat membutuhkan bantuan. Ia selalu bersamaku. bukan hanya wajahnya, tetapi juga sifatnya itu mirip sekali dengan seseorang yang dulu ku kenal.
benar... aku sangat merindukannya.
"ng? ada apa Mitsuya?" katanya heran saat menyadari diriku yang menatap dalam padanya.
"ti...tidak ada apa-apa." kataku menatap langit.
Ia berjalan cepat ke depanku, "kenapa kau menangis? apa aku berbuat salah padamu?"
"tidak. kau tidak salah apa-apa. aku hanya berpikir bahwa kau benar-benar baik. persis seperti 'Dia' yang ku kenal." tangisku sesaat setelah menghentikan langkahku.
"(tersenyum)...begitu ya? kau sudah tidak sabar ingin sampai ya? jangan menangis saat sudah sampai disana ya??" katanya sambil tersenyum.
"terima kasih. aku tidak tahu harus bagaimana untuk berterimakasih padamu."
"sudahlah.. tidak usah berterimakasih. ah, kita sudah hampir sampai!" kata Ubukata.
sudah lama sekali...
aku ingat! saat kita pertama kali bertemu, kau mengira bahwa aku adalah Yoshimitsu. kemudian kau memukulku dan aku pingsan. berapa kalipun aku bilang bahwa aku bukanlah kakek, tapi kau tetap saja keras kepala hingga akhirnya aku menyerah dan membiarkanmu memanggilku "Mitsu" sesukamu. kau selalu berkata "I Love You". tapi itu bukan untukku, melainkan untuk kakek. dan pada akhirnya aku tahu bahwa kau tulus saat mengatakan "aku menyukaimu..." kepadaku. ya! kata-kata itu untukku!
semuanya berubah dalam berpuluh-puluh tahun. rumah penduduk zaman dulu yang terlihat sangat rapat dan makmur, kini terbangun gedung-gedung mewah di atas gunung Atago.
hei, kau dengar tidak? aku baru menyadari perasaanku yang sebenarnya. aku menyukaimu, Tuan Raja...
"Mitsuya... jangan menangis! kau kan laki-laki!!" teriak Ubukata menyadarkanku.
"ma...maaf. sudahlah.. bisa tinggalkan aku sebentar?" tanyaku padanya. tampak wajah Ubukata yang cemas menatapku. aku tahu Dia sangat cemas dan sedih. akhirnya Ia tersenyum sambil mengerutkan dahinya.
"baiklah jika itu yang kau mau. panggillah aku jika kau sudah merasa lega. aku ada di tepi sungai di bawah sana."
"terima kasih..."
Ubukata pun berlalu.
angin sepoi-sepoi menghampiriku. rambut hitamku menari-nari di angkasa.
Kau... sampai kapanpun akan selalu ku ingat.
sepertinya Kakek pun merasa begitu.
sepertinya Ia juga mempunyai perasaan terhadapmu.
meskipun aku tidak begitu lama mengenalmu tapi aku benar-benar paham perasaan itu. perasaan menyukai dirimu yang sampai kapanpun akan selalu menyukai kakek.
akupun berharap bahwa perasaanmu itu juga untukku.
aku... jika waktu bisa kembali, aku akan membuatmu menyadari perasaanku yang sesungguhnya.
aku ingin kau tahu bahwa aku juga menyukaimu, Jin...
###DDDDDDDDRRRRRRRRDDDDDDDDDTTTTTTTTTTT!!!!###
a...apa ini???
gempa????
tidak!! aku belum mau mati!
Tuhan, aku masih ingin hidup!
Ubukata, Ibu, dan Ayah harus bahagia bersamaku!
JIIINN!!!!
"MITSUYAAAAAA!!!!" sesaat sebelum mata ini terpejam, kudengar suara Ubukata memanggilku.
aaahhh.... apa aku akan mati, ya Tuhan??
--------------------------------------------------------------------------
plik!
kudapati diriku terduduk di tepi jalan setelah aku sadar.
ku lihat disekelilingku. walaupun samar-samar, namun aku yakin!
ini adalah zaman Taishou yang ku kenal!
orang-orang berlalu-lalang mengenakan kimono.
mobil antik yang mempunyai kecepatan yang sangat lambat dan juga becak-becak yang sedari tadi lewat di depanku...
ya! tak salah lagi!! ini benar-benar zaman Taishou!!
ohh... dimana Jin?
apa Dia masih hidup??
Aiko? kak Kunimi? Kak Yuriko??
kalian semua... apakah kalian masih tinggal disini?
"Mi...Mitsuya?" kata seorang lelaki dari arah belakangku.
saat ku palingkan wajah ke belakang... ya! rambut itu... suara itu... mata hijau itu... wajah itu.... "Jin?? benarkah itu Kau?" tanyaku terisak.
"Kau... bukan Yoshimitsu, kan?" tanyanya.
"aku... Mitsuya, bodoh.." kataku sambil tersenyum.
Ia berlari ke arahku dan memelukku.
ya Tuhan,, terima kasih karena telah memberikanku kesempatan untuk bertemu dengannya lagi..
"Mitsuya.. katakan padaku bahwa aku tak sedang bermimpi!" teriaknya di telingaku sambil terus mendekap erat tubuhku. kurasakan sesuatu yang basah di pundakku. air matanya... berjatuhan membasahi bajuku."
"tidak.. kau tidak sedang bermimpi. aku benar-benar Mitsuya." jawabku sambil tersenyum.
Ia melepaskan pelukannya. kemudian menatapku sambil tersenyum. aku pun tersenyum padanya.
"aaahh... akhirnya bertemu kembali..." di dekap lagi tubuhku.
hangat... tubuh inilah yang kurindukan.
pelukannya, suaranya, dan wajahnya... tidak berubah.
"mana Kakek?" tanyaku.
"aku tidak tahu. setelah aku kembali ke Jepang setelah pulang dari Italia, Ia sudah menghilang entah kemana. aku benar-benar kehilangannya setelah kehilanganmu juga. apa kau tidak tahu perasaanku setelah kau tinggalkan, hey, Mitsuya?"
"tentu saja aku tahu. aku juga merasa kehilanganmu bodoh. tapi berhentilah mengatakan hal romantis begitu. kau benar-benar tidak berubah, ya..."
"hahaa.. kau ini. kau pun sama saja. hanya rambutmu saja yang bertambah panjang. benar-benar indah..." katanya sambil mencium beberapa helai rambutku.
aku tersipu. dasar... sifatnya itu pun sama sekali tidak berubah.
"heeeee... ada apa ini? tumben. biasanya kau selalu menghindar. apa kau mulai suka padaku?" tanyanya.
"jangan GE-ER ya!!!" kataku sembari melayangkan tinju ke arahnya.
Ia berkelit. sepertinya Dia sudah mulai terbiasa dengan semua tinju-tinju yang biasanya selalu kulayangkan padanya. heh, sepertinya hanya itu yang berubah darinya.
"jangan kasar-kasar begitu dong, Mitsu..."
"kau duluan kan yang memulai.. huh!"
"sudah sudah... hey, mulai tahun depan aku akan ikut perang."
"apa?"
"iya.. perang dunia ke-2"
sesaat kemudian angin kencang berhembus di dalam hatiku.
-TSUZUKU-
Langganan:
Postingan (Atom)