19 Jul 2012

[Fanfiction] Perfect Life -part 1-


ohayou!!!
saya membuat sebuah fanfiction nih!
maaf apabila hasilnya aneh dan terlalu gaje untuk dicerna oleh otak kalian. haha... XD
fanfict ini saya kerjakan dengan penuh semangat dengan mata yang terkantuk-kantuk, lho. haha..

fyi, saya membuat fanfict tentang semua personil Hey! Say! JUMP yang berada di satu sekolah yang sama, yaitu SMA Ultra Power. jadi, konsep saya adalah membuat fanfict tentang mereka namun berbeda cerita. apa kalian mengerti maksudku? haha.. XDD
yah intinya, masing-masing cerita itu tokohnya selalu berganti namun mereka berada di lingkungan yang sama, yaitu di SMA Ultra Power. nah, tokoh dalam fanfict saya ini ada empat orang yaitu Chinen Yuri, Yamada Ryousuke, Nakajima Yuto, dan Arioka Daiki.
nah, selamat membaca~!! ^-^

PERFECT LIFE
By. Lysora





Musim semi. Awal dari segalanya. Mulai hari ini, Chinen Yuri kelas 2 SMA bertekad untuk mencari teman baru!


“ibu, aku berangkat dulu ya”, kataku sambil melihat foto ibuku yang sudah meninggal dua tahun yang lalu.

Bisa kurasakan angin sepoi-sepoi membelai rambutku. Wangi bunga sakura di pinggir jalan seolah-olah menyapa, “selamat pagi”, padaku. Lalu langit yang cerah ini! Ia benar-benar membakar semangatku! Aku pun tersenyum lebar sambil berlari-lari kecil penuh irama.
Tiba-tiba seorang anak laki-laki berlari lalu menabrakku hingga kami berdua tersungkur di aspal. Aku membenarkan bajuku yang sedikit kotor karenanya. Lelaki itu kemudian duduk berlutut dan menatapku.

“maaf!”, katanya sambil menepukkan kedua tangannya.

“tidak apa-apa. Aku juga salah kok”, kataku sambil tersenyum simpul.

“ah.. tidak, tidak! Ini salahku. Akulah yang berlari tanpa melihat ada kau di depanku karena aku sedang tergesa-gesa”, balasnya.

“tergesa-gesa?”, tanyaku.

“benar. Karena sudah jam delapan!”, balasnya sambil menunjukkan jam tangannya padaku.
Aku langsung menyadarinya,”hah?? Eh??? Berarti…… (melihat jam tangannya sendiri) jamku mati~ TTwTT. Ternyata aku terlambat”, kataku.

“kalau begitu, sekarang bukan saatnya untuk ini kan? Ayo! Harus segera ke sekolah!” ajaknya penuh semangat.

“ah, benar juga! Ayo!!”, kataku sambil berlari bersamanya.

“eh ya, ngomong-ngomong kita satu sekolah dong ya? Haha.. seragammu sama denganku.” Sambungku sambil melihat seragamnya.

“oh iya. Baru sadar,nih. Hahaa… ah, sudah tak ada waktu lagi. Ayo cepat!!”

“ah, iya!!!”

Ini pertama kalinya aku terlambat ke sekolah. Memang jamku sering sekali mati. Begitu juga jam dinding di rumah. Diperbaiki pun sama sekali percuma. Terkadang jatuh sendiri, kadang juga dibuat mainan oleh kucingku, bahkan juga hancur karena ulahku sendiri. Ingin beli yang baru tapi tak ada uang. Mau pakai uang ibu, tapi sayang sekali. Ah, daripada itu, sekarang saatnya untuk berlari mencapai gerbang sekolah, melewati penjaga gerbang yang galak, lalu menaiki tangga……

“stop! Stop!”, teriak lelaki itu di belakangku.

“ada apa lagi? Kita sudah tak ada waktu lagi”, kataku setengah marah.

“kelasnya. Kita harus tahu di kelas yang mana, kan?” katanya polos melihatku.

“oh iya.” Jawabku sambil berjalan ke arahnya lalu melihat papan pengumuman.
“nnnnnnggggg… (mencari namanya) …ah, ketemu! Aku di kelas 2-1. Ah… beruntung sekali. Itu kan kelas paling oke dan isinya anak-anak pintar semua. Siapa tahu nanti ketularan pintar. Hahaa… ah ya, kau bagaimana?”, tanyanya.

“……yup! Aku juga di kelas 2-1!”, kataku tersenyum padanya.

“oh… asyik, kita sekelas! Eh? Berarti kau hebat ya. Berarti kau pintar ya?”,

“ah… tidak, kok. Aku sama seperti anak lainnya. Aku yang paling bodoh di kelas waktu kelas satu dulu.”

“begitukah? Ah… kita terlambat!”, teriaknya sambil berlari kea rah kelas.

“gyaaaa……! Gawat!!!”, kami pun berlari ke arah kelas yang baru.


Saat istirahat siang…

“loh? Ngomong-ngomong kita belum kenalan, kan?”, tanyanya padaku sambil menyantap yakisoba miliknya.

“ah, benar juga. Sampai istirahat pun kita baru sadar. Hahaa…… namaku Chinen Yuri. Salam kenal.

“aku juga. Salam kenal ya. Aku Yamada Ryousuke.”

“hehee…”

“ada apa? Kenapa tertawa?”

“tidak. Aku senang. Akhirnya aku bisa punya teman baru.”

“…(menatap Chinen lama sambil tersenyum)”

“ada apa? Apa ada sesuatu di wajahku? Apa ada taiyaki yang tersisa di mulutku?”, tanyaku sambil mengusap-usap mulutku.

“ah.. tidak. Haha… aku juga senang. Kau orang baik”,jawabnya sambil melanjutkan memakan yakisoba.

“hnnnnn… dasar aneh.”

Tiba-tiba seorang laki-laki menghampiri kami sambil membawa nampan berisi penuh dengan makanan dan susu di atasnya kemudian ia duduk di depanku.

“haaaah… syukurlah masih ada tempat kosong. Eh, ngomong-ngomong aku boleh duduk disini, kan?”,tanyanya sambil melihat kami dalam-dalam.

“tentu”,balasku.

“ah, terima kasih. Aku murid pindahan dari Kyoto. Nakajima Yuto dari kelas 2-3. Salam kenal ya”, katanya sambil tersenyum cerah.

“kami dari kelas yang sama. Kelas 2-1. Aku Yamada Ryousuke dan dia Chinen Yuri”, balas Yamada.

“oh??? Kelas 2-1???? Hebaaatt…!!! Kalian pintar ya!”

“ah.. tidak. Aku hanya beruntung saja masuk di kelas itu. Haha… mungkin ini berkat Tuhan juga karena saat ujian aku tidak menyontek. Aku benar-benar bersyukur. Haha..”, kata Yamada setengah bercanda.

“kalau begitu tahun ini kau harus berjuang.”

“benar. Aku akan berjuang. Hahaa……(melihat Chinen) kalau Chii beda lagi”

“uhuk! Chii??”, tanyaku pada Yamada.

“haha… lucu kan kedengarannya? Aku suka namamu.” Jawab Yamada.

“memangnya ada apa dengan Chii?”, Tanya Yuto penasaran.

“eh? Kau juga??”, tanyaku heran memandang Yuto.

“dia pintar, lho. Hari pertama masuk sekolah tapi dapat pelajaran matematika. Lalu soal anak kelas 3 yang dengan isengnya pak guru berikan pada kami yang jumlahnya 5 soal itu, semuanya berhasil dikerjakan dia, lho.” Kata Yamada dengan penuh semangat.

“eh? Benarkah?”, Tanya Yuto kagum.

“ah.. tidak, tidak. Soal itu juga bisa dikerjakan kak Kota, kok. Dia mendapatkan nilai sempurna”, alihku.

“tentu saja begitu karena kak Kota seharusnya sekarang kelas 3. Lagipula temannya yang dekat dengannya yang sekarang sudah kelas 3 juga belajar bersama dengannya. Pasti dia tahulah~”, kata Yamada.

“lho? Memangnya dia tidak naik kelas?”, Tanya Yuto.

“bukan. Dia ambil cuti tahun lalu. Dia pergi ke Amerika bersama kakaknya. Dengar-dengar sih, disana ia diajari bisnis sama kakaknya itu. Kalau yang kulihat sih sebenarnya kak Kota tidak mau melanjutkan bisnis yang turun temurun itu”, balas Yamada.

“bisnis apa sih?”, tanyaku.

“bisnis manajemen.” Balas Yamada lagi.

“heeee… hebat. Pasti dia orang kaya, ya?” Tanya yuto.

“benar. Tapi kudengar ia lebih suka mendalami dunia musik. Dalam acara sekolah sampai beberapa waktu ini, bahkan lagu yang dibawakan saat upacara kemarin, adalah lagu ciptaannya.” Kata Yamada sambil meminum susu stroberinya.

“eeeeehhh??? Serius????”, teriakku dan Yuto bersamaan.

“serius. Eh, ngomong-ngomong, Yuto. Kenapa makananmu sayuran semua?” Tanya Yamada heran.

“memangnya kenapa? Aku suka sayuran, kok.” Balas Yamada.

“tidak ada gizinya. Mana protein? Karbohidrat?? Ototmu! Perlihatkan ototmu!” teriak Yamada.

“kau mencari ototku?”, Tanya Yuto iseng sambil memperlihatkan ototnya yang kurus tapi berbentuk(?).

“kau harus banyak makan!!!” teriak Yamada.

Ah.. ternyata begitu ya. Tak semua anak orang kaya ingin meneruskan bisnis keluarganya. Kalau aku yang sekarang, makan saja susah apalagi mencari pekerjaan. Itu sama sekali tak mudah.
Bukankah seharusnya mereka bersyukur dengan kehidupan yang mereka dapatkan tanpa perlu bersusah payah dan tanpa perlu berusaha keras? Tinggal ‘kling!’ membunyikan lonceng kecil, butler akan segera datang ke meja makan yang panjang, tinggal menelepon sekretaris kantor maka semuanya akan segera dikerjakan oleh sekretaris dan bawahannya, atau tinggal pergi ke luar negeri dengan pesawat pribadi. Semua itu adalah impianku sejak kecil. Membahagiakan ibu pun belum sempat kulakukan. Haaaahh… ironis.

“Chii? Ada apa?”, Tanya Yamada.

“ah.. tidak ada apa-apa. Haha…”

“jangan melamun. Nanti nyawamu berkurang setengah”, kata Yuto.

“eh? Benarkah???”, Tanya Chii heran.

“mana mungkin, kan?”, jawab Yamada melotot ke arah Yuto.

“haah.. aku pikir beneran.”


Sekolah di hari pertama sudah berakhir. Yatta~!!! Berhasil dapat teman baru! Hahaa…

“nnnngg.. Chii, rumahmu ke arah sini ya?”, Tanya Yamada sambil menunjuk ke jalanan yang dimaksud.

“ah, kau juga ke arah sini ya?”, tanyaku balik.

“benar. Haha.. ya sudah, kalau begitu kita jalan bersama saja.”

“oke.”

Kami pun berjalan bersama sambil berbincang hal-hal yang menyenangkan seputar sekolah dan juga teman-teman kami termasuk hidung pak guru yang aneh. Haha.. benar-benar menyenangkan.

“ah, disini saja.” Kataku setelah menghentikan langkah kakiku.

“ah.. aku juga. Sampai besok ya!” teriak Yamada sambil tersenyum.

“ng! sampai besok!”, jawabku sambil masuk ke gerbang apartemenku.

“eh? Lho? Kok kamu masuk kesini?” Tanya Yamada yang sudah masuk ke apartemen beberapa senti dari tempatku berdiri.

“tentu. Itu kan apartemenku.” Kataku sambil menunjuk apartemen tepat di depanku.

“eeeehhh? Aku juga tinggal disini lho!” teriak Yamada heran.

“eh? Sejak kapan??” tanyaku.

“setahun yang lalu.” Jawabnya.

“bohong… kok aku tidak sadar?”

“wah… hebat. Ternyata kita bertetangga.”

“hahaaa… aku tidak menyangka. Memangya selama ini kita ngapain saja di apartemen ini tanpa saling mengenal?”

“haha.. entahlah. Kau mau mampir?”

“eh? Boleh?”

“tentu saja”


Di apartemen kecil Yamada…

“aku pulang… kak… kakaaaaakkkk~!!!” teriak Yamada masuk kedalam sambil mencari kakaknya.

“permisi~” salamku dengan sungkan.

“ah, masuk saja. Anggap saja seperti apartemenmu sendiri. Haha.. lagipula kakakku juga belum pulang.” Kata Yamada sambil mengambil sesuatu dari kulkas kemudian pergi ke dapur.

Aku menghampirinya, “kau sedang apa?”

“membuat teh. Daun teh ini dari kebun teh kakekku di kampung, lho. Rasanya enak sekali. Kau harus mencobanya!”

“ah.. terima kasih. Maaf membuatmu repot.”

“ah… tidak apa-apa. Jangan sungkan begitu. Haha… sana, duduk saja!”

“oke”, kataku sambil kembali ke ruang tamu lalu duduk dan melihat-lihat keadaan apartemen Yamada.

Banyak benda-benda aneh di dalam lemari kaca itu. Pesawat mainan dengan baling-baling dari sendok, robot yang kepalanya diganti dengan kaleng soda, sampai figura Yamada yang dibalut tisu toilet warna-warni.

“maaf ya menunggu”, Kata Yamada sambil menyerahkan segelas teh padaku.

“terima kasih. Nnng… itu……”, tanyaku sambil menunjuk ke arah lemari kaca.

“oh… itu. Itu buatan kakakku. Bahkan figura yang ada fotoku itu pun buatannya. Dia terobsesi sekali dengan hal-hal yang seperti itu. Apa asyiknya membuat benda-benda aneh itu pun aku sama sekali tidak mengerti.” Keluh Yamada sembari menyeruput teh miliknya.

“apa kau bilang?”, tiba-tiba seorang laki-laki muncul di depan pintu masuk apartemen Yamada.

“kakak! Jangan mengagetkan kami dong!” teriak Yamada pada kakaknya.

“enak saja. Itu semua adalah karya seni yang kubuat dengan susah payah. Itu adalah benda ciptaanku yang mahal harganya!”, teriaknya pada Yamada.

“apanya yang mahal?? Kalau dijual pun pasti tidak akan laku!”

“apa kau bilaaaang??” teriaknya sambil bersiap menmukul kepala Yamada. Yamada pun bersiap untuk kabur dari serangan kakaknya namun sang kakak mengalihkan perhatiannya pada Chinnen.

“oh ya, kau siapa?”, Tanya kakak Yamada sambil melirik Chinnen dalam-dalam.

“tidak sopan! Paling tidak beri salam pada tamu dulu, dong!”, teriak Yamada pada kakaknya.

“haha… namaku Chinen Yuri. Teman sekelas Yamada. Salam kenal, kak.”, kataku sambil menundukkan kepala.

“ooohh… temannya Ryo-chan, toh.” Kata sang kakak sambil meminum teh dari gelas sang adik.

“Ryo-chan?”, tanyaku setengah tertawa.

“gyaaaaa~!!! Apa-apaan sih kau ini??!! Jangan memanggilku seperti itu apalagi di depan temanku! …ayo, Chii!”, amuk Yamada sambil menarik tangan Chinen.

“ah… mau kemana?”, tanyaku.

“ke apartemenmu", katanya sambil membawaku menuju pintu masuk apartemennya.

“ciyee… mau ke apartemen cinta ya?”, goda sang kakak.

“…(merengut) berisik!” teriak Yamada sambil membanting pintu masuk.


“apartemenmu yang mana, Chii?”, Tanya Yamada masih menggandeng tangan Chinen.

“tidak jauh dari apartemenmu, kok. Tuh!”, aku menunjuk apartemen yang hanya tujuh meter saja dari apartemen Yamada.

“ah… ternyata dunia begitu sempit.” Kata Yamada

“haha…… ayo masuk.” Ajakku sambil mencari kunci pintu di tas.

“oke”, katanya.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki memanggil kami dari belakang.

“kalian ngapain disini?”, tanyanya.

“Yuto?! Kau sendiri sedang apa disini?” Tanyaku.

“eh? Kok gitu? Ini kan apartemenku.” Balasnya.

“eeh? Mana???”, Tanya Yamada heran.

“itu~”, kata Yuto sambil menunjuk apartemen di sebelah kiri apartemen Chinen.

“aaaahhh…… dunia terlalu sempit!”, kataku.

“sangat.”, sambung Yamada kagum.

[Part 1 END]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

comment? ayo!!^-^